Tidak Perlu Jadi Ustadz untuk Mengerti Kewajiban Memuliakan Jenazah
Banyak orang merasa berat membicarakan pemakaman
karena mereka berkata:
“Saya kurang paham ilmu agama…”
“Takut salah bicara…”
“Takut ditanya dalil…”
Padahal memahami pemakaman syariah
bukan hanya untuk ustadz, santri, atau ahli fikih.
Islam diturunkan sebagai agama rahmat,
bukan untuk membuat umat bingung,
tetapi untuk memberi petunjuk
agar setiap muslim tahu bagaimana memuliakan saudaranya
tidak hanya ketika hidup,
tapi hingga ia kembali ke pangkuan Allah.
Karena itu, adab pemakaman yang benar
tidak rumit.
Ia ringan, indah, dan mudah dipahami siapa pun.
🕌 1. Syariah Meminta Kita Menyegerakan Pemakaman, Bukan Menyulitkannya
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Segerakanlah pemakaman jenazah.”
(HR. Bukhari)
Ini bukan sekadar sunnah,
tetapi prinsip kehormatan.
Kenyataannya hari ini:
- keluarga sering mencari makam sampai ke 3–5 TPU,
- jenazah menunggu berjam-jam,
- birokrasi berbelit,
- lahan tidak pasti,
- penuh hingga dipindahkan ke lokasi yang tidak layak.
Semua ini bertentangan dengan adab menyegerakan pemakaman.
Makanya mempersiapkan makam sejak dini
bukan “lebay”, bukan “takut mati”,
tetapi menunaikan perintah syariah dengan tenang.
🕌 2. Jenazah Tidak Boleh Dicampur atau Dilangkahi
Banyak keluarga kaget ketika mengetahui bahwa dalam syariat:
✔ Tidak boleh melangkahi makam
✔ Tidak boleh duduk di atasnya
✔ Tidak boleh menindih atau menumpang
✔ Tidak boleh bercampur dengan non-Muslim
Ini jelas dalam hadis dan ijma’ ulama.
Namun kenyataan TPU hari ini:
- tidak ada jalur di antara makam,
- ziarah harus melangkahi makam orang lain,
- banyak yang tumpang karena lahan penuh,
- kubur muslim bercampur dengan non-muslim,
- makam bergeser karena tanah longsor atau banjir.
Bukan salah masyarakat.
Kondisinya memang tidak memungkinkan menjaga adab.
Inilah sebabnya edukasi pemakaman syariah penting
agar keluarga muslim tahu apa yang benar menurut agama,
lalu bisa memilih tempat yang memungkinkan syariah ditegakkan.
🌿 3. Tidak Perlu Menghafal Dalil — Cukup Pahami Ruh Syariah: “Memuliakan Jenazah adalah Ibadah.”
Ada satu hadis yang cukup menjadi pegangan siapa saja,
tanpa harus hafal kitab-kitab fikih:
“Memecahkan tulang mayit
sama seperti memecahkan tulang orang hidup.”
(HR. Abu Dawud)
Maknanya:
- jenazah punya kehormatan,
- tidak boleh disakiti,
- tidak boleh diperlakukan sembarangan,
- tidak boleh ditempatkan di area tidak layak,
- tidak boleh diinjak, diduduki, atau dilangkahi,
- tidak boleh ditumpang tanpa alasan syar’i.
Kalau dalil ini dipahami,
maka otomatis kita tahu:
pemakaman bukan urusan teknis—
tetapi urusan kehormatan.
🕌 4. Ziarah Itu Ibadah Lembut — Ia Butuh Lingkungan yang Mendukung
Ziarah kubur mengandung banyak nilai:
- mengingat akhirat,
- melembutkan hati,
- mendoakan orang tua,
- menjaga silaturahmi keluarga,
- meneguhkan iman.
Namun bagaimana mungkin ziarah menjadi ibadah khusyuk
bila harus:
- menginjak kubur lain,
- berdiri di tanah becek,
- bergelut dengan bau sampah,
- mencari nama yang hilang,
- atau berdesakan di antara kubur yang rapat?
Ziarah yang seharusnya menenangkan,
malah membuat hati semakin sedih dan berat.
Ziarah adalah ibadah;
ia butuh tempat dan suasana ibadah, bukan ketidaknyamanan.
🌿 5. Inilah Mengapa Banyak Keluarga Mencari Pemakaman yang Menjaga Adab Syariah

Dan inilah yang membuat keluarga muslim di kota besar
akhirnya memilih tempat seperti Al Azhar Memorial Garden,
bukan karena “mewah”,
tetapi karena:
✔ 100% muslim
Sesuai tuntunan ulama.
✔ Tidak tumpang
Satu nama, satu kehormatan.
✔ Tidak dilangkahi
Ada walkway rapi antar makam.
✔ Perawatan selamanya
Tidak ada kubur hilang karena rumput tinggi.
✔ Tata ruang syariah
Menghadap kiblat, tidak bercampur.
✔ Lingkungan tenang & bersih
Ziarah terasa seperti ibadah, bukan siksaan.
Ini bukan “kemewahan”.
Ini dasar adab Islam
yang sudah sulit ditemukan di TPU kota besar.
🌸 Penutup — Pemahaman Agama Tidak Perlu Sempurna.
Yang Penting Sempurna Cintanya kepada Keluarga.
Tidak paham ilmu agama?
Tidak mengerti fikih pemakaman secara detail?
Tidak masalah.
Karena adab pemakaman bukan urusan hafalan dalil.
Ia urusan hati:
- hati yang ingin memuliakan orang tua,
- hati yang ingin menjaga pasangan,
- hati yang ingin memudahkan anak-cucu,
- hati yang ingin pulang kepada Allah dengan terhormat.
Dan ketika hati sudah lembut,
pemahamannya akan mengikuti.
Makam bukan tempat bersemayamnya tanah,
tetapi tempat bersemayamnya cinta terakhir keluarga.
Semoga Allah memudahkan setiap keluarga muslim
untuk menunaikan adab pemakaman dengan baik,
meski ilmunya belum sempurna—
selama cintanya tulus.



