Menyegerakan Amal Kebaikan, Termasuk Menyiapkan Rumah Terakhir dengan Ihsan

Dalam hidup ini, ada banyak kebaikan yang bisa kita tunda. Tapi ada satu kebaikan yang tidak boleh ditunda — yaitu kebaikan yang berhubungan dengan kepastian takdir kita: kematian.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Segerakanlah dalam berbuat kebaikan, sebelum datang berbagai fitnah seperti potongan malam yang gelap.”
(HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan betapa pentingnya menyegerakan amal saleh sebelum datang masa di mana kita tidak lagi mampu melakukannya.
Termasuk di dalamnya adalah menyegerakan urusan kematian — baik dalam bentuk menyolatkan jenazah, memakamkannya, maupun menyiapkan tempat peristirahatan terakhir bagi diri sendiri dan keluarga.


🌸 Fardhu Kifayah yang Mengandung Amanah Besar

Islam mengajarkan bahwa mengurus jenazah adalah bagian dari fardhu kifayah:
memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkan.
Jika sebagian umat melaksanakannya, gugurlah kewajiban bagi yang lain.
Namun bila tak ada yang melakukannya, semua menanggung dosa.

Namun di antara keempat kewajiban itu, bagian “menguburkan” sering kali dipahami hanya sebatas menggali tanah dan menutup liang lahat.
Padahal, di baliknya ada tanggung jawab sosial dan finansial yang tidak kalah penting: memastikan bahwa umat Islam memiliki tempat pemakaman yang layak dan terhormat.

Menyiapkan lahan makam, dalam makna sosial, memang bagian dari fardhu kifayah umat Islam.
Tetapi dalam makna pribadi, ia adalah bentuk ihsan — kebaikan yang dilakukan dengan kesempurnaan niat dan tanggung jawab.


🕊️ Ihsan dalam Menghadapi Kematian

Ihsan, dalam makna yang diajarkan Rasulullah ﷺ, adalah “beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya.”
Artinya, setiap amal dilakukan dengan kesungguhan, keindahan, dan tanggung jawab yang tulus.

Maka ketika seseorang menyiapkan rumahnya untuk hidup di dunia, ia melakukannya dengan ihsan: memperhatikan kenyamanan, estetika, bahkan keamanan.
Namun anehnya, ketika berbicara tentang rumah terakhir, sebagian orang menunda-nunda — padahal di situlah ia akan tinggal paling lama.

Menyiapkan lahan makam bukan berarti takut mati.
Sebaliknya, itu tanda kematangan iman dan keikhlasan hati.
Karena seseorang yang beriman tahu, setiap jiwa pasti akan kembali kepada Tuhannya.
Dan ia ingin kembali dalam keadaan terbaik, di tempat yang terhormat, dan dengan cara yang penuh adab.


💭 Ketika Kematian Dianggap Urusan Nanti

Banyak orang yang begitu rapi mengatur masa depannya:

  • Dana pendidikan anak,
  • Asuransi kesehatan,
  • Rencana pensiun,
  • Bahkan tabungan liburan dan perjalanan umrah.

Namun ketika berbicara tentang kematian, banyak yang berkata, “Ah, nanti saja.”
Padahal kematian bukan soal nanti, tapi soal siapa yang duluan dipanggil.

Bukankah aneh bila urusan dunia yang belum tentu terjadi disiapkan dengan matang,
sementara satu peristiwa yang pasti — kematian — justru diabaikan?

Islam bukan agama yang melarang perencanaan duniawi.
Justru Islam mendorong agar kita berpikir jauh ke depan, termasuk menyiapkan kematian dengan cara yang baik dan penuh tanggung jawab.

Allah berfirman:

“Dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
(QS. Al-Hasyr: 18)

Hari esok yang dimaksud bukan hanya esok di dunia, tetapi hari ketika kita dikembalikan ke bumi.
Maka, menyiapkan rumah terakhir bukanlah urusan remeh — melainkan bagian dari amal saleh yang berpahala besar.


🌿 Perspektif Syariah dan Perencanaan Finansial

Dalam kerangka financial planning syariah, semua perencanaan hidup yang baik adalah ibadah bila diniatkan untuk kebaikan dan tanggung jawab.
Menyiapkan biaya pendidikan anak, asuransi kesehatan, atau tabungan pensiun — semua itu bentuk ikhtiar yang halal dan dianjurkan.

Maka begitu pula menyiapkan lahan makam, yang justru menjadi bagian dari mitigasi spiritual dan sosial.

Ketika seseorang menyiapkan lahan makamnya sendiri:

  • Ia telah meringankan beban keluarga di masa duka.
  • Ia telah menutup pintu potensi sengketa dan kebingungan.
  • Ia menjaga kehormatan dirinya agar dimakamkan di tempat yang layak.
  • Ia menjalankan prinsip ihsan: berbuat baik hingga akhir hayat.

Ini bukan soal biaya, tapi soal kejelasan dan ketenangan.
Menyiapkan rumah terakhir bukan pemborosan, tapi perencanaan yang penuh berkah.


🌸 Dari Amanah Menjadi Warisan Ketenangan

Kita semua ingin meninggalkan sesuatu yang baik bagi keluarga — warisan harta, ilmu, dan doa.
Tapi salah satu warisan yang sering terlupakan adalah warisan ketenangan.

Bayangkan keluarga yang ditinggalkan tanpa kebingungan, tanpa kerepotan.
Semua sudah disiapkan dengan baik.
Mereka hanya tinggal mengurus doa, bukan administrasi.
Mereka bisa berduka dengan tenang, tanpa harus berlari mencari TPU atau mengurus perizinan.

Itulah hakikat amanah hidup yang paripurna — ketika bahkan kematian pun tidak menjadi beban bagi orang lain.
Itulah makna ihsan sejati.


🕯️ Menyegerakan Kebaikan, Menyempurnakan Kehidupan

Kematian adalah kepastian, tapi cara kita menyambutnya adalah pilihan.
Dan Islam selalu mengajarkan untuk menyegerakan kebaikan — termasuk dalam menyiapkan kematian dengan terhormat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Segerakanlah pengurusan jenazah. Jika ia orang saleh, maka kalian menyegerakannya menuju kebaikan. Jika tidak, maka kalian segera melepaskan keburukannya dari pundak kalian.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan prinsip spiritual dan sosial sekaligus:
bahwa kematian tidak boleh ditunda, dan segala hal yang menyangkutnya perlu disegerakan —
termasuk menyiapkan lahan pemakaman yang sesuai syariat, terhormat, dan penuh kasih.


🌿 Penutup: Rumah Terakhir yang Dipenuhi Ihsan

Setiap manusia ingin dimakamkan di tempat yang layak — tenang, bersih, dan terawat.
Tempat di mana keluarga bisa berziarah dengan damai, di mana doa bisa mengalir tanpa henti.
Itulah rumah terakhir yang seharusnya disiapkan dengan ihsan.

Karena cinta sejati bukan berhenti di dunia,
tapi terus hidup dalam doa di atas tanah yang penuh keberkahan.

Maka menyegerakan amal kebaikan, termasuk menyiapkan rumah terakhir dengan ihsan,
adalah tanda bahwa kita tidak hanya siap hidup dengan baik,
tapi juga siap wafat dengan tenang —
sebagai hamba yang menjaga adab hingga akhir hayat. 🌿


🕊️ Menyiapkan rumah terakhir bukan akhir dari perencanaan hidup,
tetapi penyempurna dari tanggung jawab seorang mukmin.

Baca Artikel Lainnya :

Ikhtiar Terakhir Seorang Ayah & Ibu: Menutup Hidup dengan Adab dan Memberi Ketenangan untuk Anak-Anak

Tak Ada yang Beli Makam di Al Azhar Langsung Meninggal, Tapi Banyak yang Menyesal Karena Belum Siap

Keputusan Penuh Cinta: Bersama di Dunia, Berdampingan di Alam Barzakh, dan Berkumpul Kembali di Surga

Biaya Pemakaman Jika Harus Dibawa ke Kampung: Antara Niat Mulia dan Kenyataan yang Tidak Semua Orang Siap Menghadapinya

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top
Open chat
Assalaamualaikum Wr. Wb.

Mohon informasi tentang kavling makam Al-Azhar. Terima Kasih.