Panti jompo adalah tempat yang penuh cerita.
Tempat di mana orang-orang tua berkumpul, bukan karena mereka tidak punya keluarga, tetapi karena keadaan hidup membawa mereka ke sana.
Ada yang tinggal karena:
- anak bekerja jauh
- tidak ingin merepotkan keluarga
- kesehatan melemah
- ingin perawatan profesional
- tidak ada lagi saudara dekat
- atau karena mereka sudah terlalu tua untuk hidup sendirian
Namun di balik senyum para penghuni panti jompo, ada satu kecemasan yang jarang dibicarakan:
“Jika aku meninggal di sini … bagaimana nanti?”
Ini adalah pertanyaan sunyi yang hanya terdengar di hati banyak lansia.
1. Panti Jompo Menjaga Mereka Saat Hidup, Tapi Tidak Semua Punya Sistem Saat Meninggal
Faktanya, banyak panti jompo:
- hanya mengurus perawatan harian,
- menyediakan tenaga medis,
- memberi tempat tinggal,
- tapi tidak memiliki sistem pemulasaran dan pemakaman.
Ketika penghuni meninggal, pihak panti sering harus menghubungi:
- keluarga (jika ada),
- saudara jauh,
- RT/RW,
- rumah sakit,
- pihak kepolisian,
- atau bahkan tetangga lama yang sudah bertahun-tahun tidak berhubungan.
Proses ini sering kacau dan penuh kebingungan.
Dan yang paling menyakitkan adalah…
Ketika jenazah harus menunggu terlalu lama karena tidak ada keluarga yang segera datang.
2. Banyak Penghuni Panti Jompo yang Tidak Lagi Punya Keluarga Dekat
Di panti jompo, kisah-kisah seperti ini bukan hal langka:
- tinggal sendirian puluhan tahun
- anak menetap di luar negeri
- cucu tak mengenali
- saudara kandung sudah wafat
- tidak ada tetangga lama yang tahu kondisinya
Ketika salah satu meninggal, tidak ada keluarga yang memegang kontrol.
Pihak panti jompo akhirnya:
- bingung mengurus administrasi,
- bingung menghubungi siapa,
- bingung membawa jenazah ke mana,
- bingung mencari pemakaman.
Kematian menjadi rumit, padahal seharusnya menjadi proses penuh penghormatan.
3. Yang Mengurus Bukan Keluarga, Tapi Pihak Panti yang Sudah Lelah dan Terbatas
Harus diakui, panti jompo bukan lembaga pemulasaran.
Mereka hanya bisa:
- memandikan seadanya
- mengurus surat kematian
- memberi kabar ke keluarga
Setelah itu…
semua proses pemakaman tidak berada dalam kendali mereka.
Ada banyak kasus:
- jenazah lama terurus karena tidak ada keluarga
- pemakaman dilakukan seadanya
- dikebumikan di TPU yang “ada tempatnya”
- dimakamkan tanpa pendamping keluarga
- tidak ada tahlil, tidak ada doa, tidak ada sahabat
Ini adalah kenyataan pahit yang terjadi lebih sering daripada yang kita bayangkan.
4. Panti Jompo Menjadi Tempat Tinggal — Tapi Al Azhar Bisa Menjadi Tempat Peristirahatan yang Sudah Dipersiapkan
Penghuni panti jompo sangat membutuhkan rencana pemakaman yang tertata, karena mereka:
- hidup jauh dari anak
- tidak punya komunitas
- tidak punya tetangga dekat
- tidak punya keluarga yang bisa cepat datang
- sangat bergantung pada sistem
Al Azhar Memorial Garden memberi ketenangan itu:
✅ Pemulasaran syariah lengkap
Tidak tergantung pada keluarga atau lingkungan.
✅ Ambulans siap 24 jam
Panti jompo tinggal menghubungi — semuanya berjalan otomatis.
✅ Pemakaman langsung ditangani pihak Al Azhar
Tidak perlu mencari TPU di saat panik.
✅ Proses A–Z sudah rapi
Pihak panti jompo tinggal mengikuti alurnya.
✅ Makam tetap terawat jangka panjang
Walaupun penghuni tidak punya keluarga dekat.
✅ Menjadi bentuk persiapan terakhir yang terhormat
Tidak ada lagi rasa takut: “Aku akan dikubur di mana?”
5. Bagi Anak-Anak, Ini Bentuk Bakti Tanpa Harus Selalu Ada di Samping Orang Tua
Banyak anak ingin berbakti, tetapi terhalang:
- pekerjaan,
- jarak,
- rumah tangga,
- ekonomi,
- kondisi keluarga,
- hidup di luar negeri,
- atau memang tidak bisa menjaga orang tua setiap hari.
Menyiapkan makam di Al Azhar adalah bentuk bakti:
“Saat aku tidak bisa menjagamu setiap hari, setidaknya aku menjagamu di hari terakhirmu.”
Ini hadiah yang tidak terlihat…
tapi terasa sampai akhirat.
6. Penghuni Panti Jompo Berhak Dimuliakan Saat Wafat — Seperti Mereka Pernah Memuliakan Kita Saat Kecil
Para lansia itu pernah:
- menyuapi kita,
- memeluk kita,
- mendoakan kita,
- menyekolahkan kita,
- menjaga kita saat sakit,
- mengantar tidur kita setiap malam.
Sekarang, di masa tua, mereka mungkin sendirian di panti.
Tapi mereka tetap pantas dimuliakan saat wafat.
Al Azhar memberikan:
- tempat yang bersih,
- makna yang mulia,
- fasilitas syariah yang terjaga,
- dan ketenangan untuk anak cucu yang tidak selalu bisa hadir.
7. Penutup: Panti Jompo Adalah Rumah Sementara — Tapi Pemakaman Adalah Rumah Terakhir

Dan rumah terakhir itu harus dipilih dengan penuh cinta.
Bukan karena kemewahan.
Bukan karena gengsi.
Tapi karena penghormatan terakhir untuk orang yang sudah berjuang sepanjang hidup.
Untuk para penghuni panti jompo —
memiliki makam yang sudah dipersiapkan bukan saja penting,
tetapi menjadi bentuk martabat dan ketenangan jiwa.
Untuk anak-anak mereka —
ini adalah cara terbaik untuk tetap berbakti,
meski tidak bisa berada di samping setiap hari.
Dan untuk keluarga —
ini adalah ketenteraman hati ketika hari itu tiba,
karena semuanya sudah tertata, syar’i, dan penuh kemuliaan.
Baca Artikel Lainnya
Rumah Terakhir: Bukan Akhir, Tapi Awal Kehidupan yang Sebenarnya
Dari Sahabat Nabi ke Sahabat Hari Ini. Bersama Dalam Iman, Hingga Rumah Terakhir
Menyegerakan Amal Kebaikan, Termasuk Menyiapkan Rumah Terakhir dengan Ihsan



