“Ketika Segalanya Terhenti, Ia Masih Menuntun”. Legacy yang Jarang Dibahas dalam Seminar Keuangan Syariah

Saat Semua Rencana Dunia Berhenti

Bayangkan satu hari ketika semua rencana hidup berhenti.
Telepon tidak lagi berdering. Grup kerja sunyi. Rekening tidak bisa diakses.
Dan keluarga kita… sedang berdiri di ruang duka,
dikelilingi kebingungan, air mata, dan keputusan besar yang harus dibuat secepatnya.

Dimana jasad akan dimakamkan?
Apakah sudah ada tempat?
Apakah itu sesuai syariah?

Anak-anak masih menangis. Istri masih terisak.
Tapi waktu tidak menunggu — karena pemakaman harus segera dilakukan.

Namun karena kita tidak pernah mempersiapkan apa-apa,
mereka kini harus mengurus semuanya di tengah tangis dan ketidaktahuan.

Mereka ingin berduka,
tapi mereka tidak sempat berduka
karena sibuk mengurus sesuatu yang seharusnya dulu sudah kita siapkan.


Pemimpin yang Masih Memimpin Saat Tiada

Dalam Islam, seorang suami bukan hanya pencari nafkah.
Ia adalah qowwam — pelindung, pengarah, penentu arah.
Dan tanggung jawab itu tidak berhenti ketika ruh meninggalkan jasad.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kepemimpinan sejati bukan hanya memimpin saat hidup,
tapi memastikan keluarga tetap terarah, tidak berdosa, dan tetap dalam syariat setelah kita tiada.

Itulah leadership dalam sunyi
kepemimpinan yang tidak berbicara,
tapi tetap menuntun bahkan setelah jasad terkubur.


Financial Syariah: Rencana Dunia untuk Akhirat

Dalam seminar keuangan, kita sering diajarkan untuk menyiapkan masa depan:
pendidikan anak, tabungan pensiun, dana darurat, investasi halal.

Namun jarang sekali yang membahas perencanaan akhir hayat
bagaimana mengelola bagian terakhir dari kehidupan dengan penuh iman.

Padahal, perencanaan makam syariah adalah bagian dari financial planning Islami yang paling pasti.
Karena semua orang akan sampai pada waktunya.
Dan tugas seorang pemimpin adalah menyiapkan agar keluarganya tidak bingung, tidak salah, tidak berdosa.

“Seorang pemimpin sejati tetap memimpin bahkan setelah ia tiada —
karena semua sudah ia siapkan dengan iman.”


Teladan dari Sahabat Rasulullah ﷺ

Ketika sahabat mulia Sa‘d bin Abi Waqqash رضي الله عنه sakit keras di Makkah, ia ingin bersedekah besar-besaran.
Namun Rasulullah ﷺ menasihatinya agar tidak berlebihan dan tetap memikirkan keluarganya.

عَن سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ جَاءَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَعُودُنِي عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ مِنْ وَجَعٍ اشْتَدَّ بِي، فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، بَلَغَ بِي مِنَ الْوَجَعِ مَا تَرَى، وَأَنَا ذُو مَالٍ، وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا ابْنَةٌ، أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي؟ قَالَ لَا. قُلْتُ: بِالنِّصْفِ؟ قَالَ لَا. قُلْتُ: بِالثُّلُثِ؟ قَالَ الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ…

“Rasulullah ﷺ menjengukku saat aku sakit keras pada Haji Wada’. Aku berkata: Wahai Rasulullah, aku memiliki banyak harta dan hanya seorang anak perempuan yang akan mewarisi. Apakah aku boleh bersedekah dua pertiganya?” Beliau menjawab, “Jangan.” Aku berkata, “Setengahnya?” Beliau menjawab, “Jangan.” Aku berkata, “Sepertiganya?” Beliau bersabda, “Sepertiga, dan sepertiga itu sudah banyak.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maknanya: Rasulullah ﷺ mengajarkan keseimbangan antara beramal dan bertanggung jawab.
Tugas seorang pemimpin adalah meninggalkan keluarga dalam keadaan baik dan tenang.

Termasuk — memastikan urusan akhir hayatnya tertata dengan syariah, agar keluarga tidak terjerumus dalam dosa karena kelalaiannya.


Adab Pemakaman Syariah: Menjaga Keluarga dari Dosa

Rasulullah ﷺ sangat menekankan adab terhadap jenazah dan makam.
Di antaranya:

لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا
“Janganlah kalian duduk di atas kuburan, dan janganlah kalian shalat menghadap kepadanya.”
(HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa makam harus dijaga kehormatannya.

Dalam fiqih Islam, maqshad syar’i dari adab pemakaman adalah:

  1. Mengubur jenazah di tempat yang aman dan terhormat.
  2. Menghadap ke arah kiblat.
  3. Tidak bercampur dengan kuburan non-Muslim.
  4. Tidak menunda pemakaman tanpa uzur.
  5. Tidak melangkahi atau menginjak makam orang lain.
  6. Tidak mendirikan bangunan atau melakukan hal sia-sia di atasnya.

Bila seorang ayah tidak menyiapkan lokasi pemakaman yang jelas,
maka di hari duka nanti keluarganya bisa saja terpaksa memakamkan di tempat campur,
atau di area yang tidak menghadap kiblat dengan benar,
atau bahkan di lokasi yang tidak sesuai dengan adab syariah.

Mereka tidak bermaksud melanggar —
tapi kelalaian kita hari ini bisa membuat mereka tanpa sadar berdosa.

Maka menyiapkan pemakaman yang benar adalah bagian dari tanggung jawab iman:
menjaga keluarga agar tetap berada di atas jalan yang benar bahkan setelah kita tiada.


Krisis Makam: Kenyataan yang Perlu Dihadapi

Jakarta dan sekitarnya kini mengalami krisis lahan pemakaman.
Banyak TPU penuh, bercampur antara Muslim dan non-Muslim,
ada yang bertumpuk, ada yang harus diperpanjang,
bahkan ada yang dipindah tanpa izin keluarga.

Keluarga yang sedang berduka sering kali kebingungan:
menunggu izin, mencari lahan, mengatur biaya, hingga menunda pemakaman —
padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

أَسْرِعُوا بِالْجَنَازَةِ
“Segerakanlah pemakaman jenazah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Menunda pemakaman adalah hal yang tidak disukai dalam syariah,
karena menyelisihi sunnah dan menambah kesulitan keluarga.


Solusi Syariah: Ketenangan yang Direncanakan

Salah satu bentuk ikhtiar syariah untuk memastikan ketenangan dunia–akhirat adalah
menyiapkan pemakaman di tempat yang aman, layak, dan sesuai syariat.

Seperti Al Azhar Memorial Garden,
pemakaman khusus Muslim yang dikelola secara profesional dan Islami:

  • Lokasi hanya untuk Muslim, tidak bercampur.
  • Arah kiblat presisi dan benar.
  • Tidak bertumpuk, tidak berpindah.
  • Suasana ziarah nyaman dan penuh ketenangan.
  • Dirawat selamanya, tanpa biaya perpanjangan.
  • Di bawah lembaga Al Azhar yang amanah.

Bagi seorang ayah, keputusan seperti ini bukan sekadar membeli lahan,
tapi mewujudkan amanah spiritual
agar keluarga kelak tidak bingung, tidak salah langkah, dan tidak berdosa.


Penutup: Kepemimpinan yang Tak Pernah Mati

Ketika semua kata berhenti,
ketika tangan tak bisa lagi menuntun,
yang tersisa adalah keputusan-keputusan yang dulu dibuat dengan iman.

“Suami yang bijak bukan hanya memimpin saat hidup,
tapi juga memastikan keluarganya tidak tersesat saat ia wafat.”

Inilah legacy seorang Muslim.
Kepemimpinan yang hidup lebih lama dari jasadnya.
Kepemimpinan yang menuntun keluarganya bahkan dalam kepergian.

Karena saat segalanya terhenti,
pemimpin sejati masih menuntun —
dalam diam,
dengan cinta,
dengan iman.

Baca Artikel Berikutnya :

“Ketika Segalanya Terhenti, Ia Masih Menuntun”

“Ketika Tinggal di Panti Jompo, Lalu Bagaimana Saat Meninggal? Sebuah Renungan yang Sering Terlupakan”

Rumah Terakhir: Bukan Akhir, Tapi Awal Kehidupan yang Sebenarnya

Dari Sahabat Nabi ke Sahabat Hari Ini. Bersama Dalam Iman, Hingga Rumah Terakhir

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top
Open chat
Assalaamualaikum Wr. Wb.

Mohon informasi tentang kavling makam Al-Azhar. Terima Kasih.