Jika Cinta Itu Tulus, Mengapa Kita Tidak Menyiapkan Rumah Terakhir?

Saat kita masih bisa berjalan tanpa dituntun,
masih bisa menyuap makanan ke dalam mulut,
masih bisa tertawa bersama keluarga…

Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya:

“Jika suatu hari aku pergi lebih dulu, apakah aku sudah memudahkan keluarga yang aku cintai?”

Kita menghabiskan hidup untuk menyiapkan banyak hal:

  • tempat tinggal yang layak,
  • kendaraan agar mudah bepergian,
  • pendidikan terbaik untuk anak-anak,
  • tabungan untuk hari tua…

Namun, ada satu tempat yang jarang kita pikirkan:

👉 Tempat kita akan beristirahat setelah malaikat maut mengakhiri seluruh urusan dunia.

Padahal, rumah terakhir itu justru tempat yang paling lama kita tempati.


🕌 Fardhu Kifayah: Benar, Tapi Bukan Alasan Menunda Tanggung Jawab

Sebagian orang berkata:

“Kalau saya meninggal, orang lain yang urus. Itu fardhu kifayah.”

Betul, pemakaman adalah kewajiban kaum muslimin kepada muslim yang wafat.
Namun Rasulullah ﷺ menekankan:

“Segeralah kalian mengurus jenazah.”
— HR. Bukhari & Muslim

Segera berarti:

✅ Tidak menyulitkan keluarga
✅ Tidak menambah beban saat duka
✅ Tidak merendahkan kehormatan jenazah
✅ Tidak menunggu sampai masalah muncul

Persiapan makam adalah bagian dari adab setelah wafat, bukan gaya hidup.


🌿 Cinta yang Tak Disiapkan Bisa Berubah Menjadi Sesal

Mari kita jujur…

Di hari kita menghembuskan napas terakhir:
anak-anak kita akan dikuasai tangis dan kebingungan.

Mereka harus mencari:

  • TPU yang masih punya lahan,
  • biaya mendadak yang tidak sedikit,
  • izin yang harus cepat,
  • tempat pemakaman yang layak…

Air mata cinta akan bercampur dengan guratan panik.

Apakah ini yang kita inginkan untuk mereka?

Jika kita benar mencintai mereka sepenuh hati,
maka cinta itu harus dipersiapkan sampai akhir.


🕌 Fakta Sosial yang Tidak Bisa Ditolak

Jakarta hari ini bukan seperti 30 tahun lalu.

Data menyebutkan:

  • Mayoritas TPU sudah penuh
  • Sebagian hanya mampu menampung 1–3 tahun lagi
  • Sistem tumpang makin lazim
  • Banyak kubur hilang, nisan tak terbaca
  • Akses ziarah sulit, lingkungan kurang terawat

Berita dari Kompas.com dan sumber lain menyebut:

“Kota Jakarta mengalami krisis lahan pemakaman yang semakin serius.”

Jika kita menunggu,
pilihan makin sempit
dan kehormatan makin terancam.

Kita mungkin dimakamkan di tempat:

  • berdesakan,
  • dekat pembuangan sampah,
  • nisan terinjak peziarah lain,
  • rumput menutupi nama kita sebelum cucu kita bisa mengejanya…

Bukan karena keluarga tidak cinta,
tetapi karena kita tak pernah memberi mereka pilihan lebih baik.


🌿 Cinta Terakhir: Memuliakan Diri dan Menenangkan Keluarga

Islam mengajarkan kita untuk memilih:

  • tetangga yang baik saat hidup dan setelah mati,
  • tempat yang memungkinkan doa mengalir,
  • pemakaman yang menghormati arah kiblat,
  • dan lingkungan muslim yang menjaga adab.

Karena Kubur adalah gerbang pertama menuju akhirat.

Tempat itu harus:
✅ dirawat
✅ terhormat
✅ dan mudah diziarahi

Agar setiap langkah anak dan cucu
menjadi doa yang mengetuk pintu langit.


🌸 Penutup: Jangan Sampai Keluarga Kita Mengucap…

Suatu hari nanti…

Ketika mereka berdiri di depan liang lahat kita,
di bawah terik yang menyayat itu…

Jangan sampai mereka menunduk dan berkata pelan:

“Andaikan ia menyiapkan lebih awal…”

Persiapan makam bukan tanda takut mati.
Itu tanda kecerdasan iman dan cinta yang jujur.

🌿
Persiapkan rumah terakhir sebelum Allah memanggil kita pulang.
Karena setiap jiwa berhak dimuliakan, hingga akhir perjalanan.

Baca Artikel Lainnya :

Mengapa Al Azhar adalah Pilihan Orang yang Tak Mau Menyusahkan Anak

Jika Aku Pergi Lebih Dulu: Tanda Cinta Terakhir untuk Keluarga yang Kita Tinggalkan

Krisis Makam di Jakarta: Saatnya Menjadi Bagian dari Solusi Mulia Bersama Al Azhar

Mengapa Makam Tak Boleh Jadi Pertaruhan? Kepastian Syariah dan Keamanan Abadi di Al Azhar Memorial Garden

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top
Open chat
Assalaamualaikum Wr. Wb.

Mohon informasi tentang kavling makam Al-Azhar. Terima Kasih.