Ada satu masa dalam hidup ketika seseorang mulai lebih sering menatap kembali perjalanan panjangnya. Saat rambut mulai memutih, suara pelan mulai melemah, atau langkah mulai tidak setegas dulu, hati kita semakin dekat kepada satu kesadaran: bahwa hidup ini hanyalah perjalanan menuju kampung akhirat.
Allah berfirman, “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185).
Ayat ini bukan untuk menakuti, tetapi untuk menyadarkan bahwa kita perlu pulang dengan cara yang paling mulia.
Sebagai seorang ayah, ibu, atau orang tua yang telah melewati banyak fase kehidupan—membesarkan anak, mengurus keluarga, bekerja siang malam—kita tentu ingin menutup perjalanan hidup dengan baik. Bukan dengan kepanikan, bukan dengan beban, dan bukan dengan membuat anak-anak kebingungan pada hari paling berat dalam hidup mereka.
Kasih Sayang Orang Tua Tidak Berhenti Saat Napas Terakhir
Banyak orang tua memikirkan anak-anaknya setiap hari. Bahkan ketika usia bertambah, doa kita semakin banyak untuk mereka: agar mereka sehat, sukses, bahagia, hidup dalam iman.
Namun ada satu hal yang sering terlupakan: bagaimana kita ingin meninggalkan mereka di hari kepergian kita?
Apakah kita ingin mereka:
- bingung mencari lahan makam,
- panik dengan biaya yang naik tiba-tiba,
- saling menunggu keputusan,
- atau harus menerima tempat yang sempit dan tidak terjaga?
Padahal, Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk menyegerakan pemakaman.
Beliau bersabda:
“Segerakanlah pemakaman jenazah.” (HR. Bukhari & Muslim)
Tanpa persiapan, anak-anak kita justru akan sulit menjalankan perintah ini. Mereka butuh waktu untuk mencari lahan, mengurus administrasi, dan menyesuaikan banyak hal. Sering kali, semua yang mereka lakukan tidak sepenuhnya memuliakan kita, bukan karena tidak sayang, tetapi karena kondisi tidak mendukung.
Adab Pemakaman Adalah Bentuk Penghormatan Terakhir
Dalam Islam, jenazah dimuliakan dengan adab:
- Dikebumikan menghadap kiblat,
- Tidak dicampur dengan non-Muslim,
- Tidak dilangkahi kuburnya,
- Tidak ditunda tanpa sebab,
- Dipindah tanpa keperluan syar’i.
Namun kenyataannya, kondisi pemakaman di kota besar seperti Jakarta sering tidak memungkinkan adab-adab itu dijalankan. Makam sesak, akses sempit, dan sering kali keluarga terpaksa melangkahi kubur lain karena keterbatasan ruang.
Orang tua yang bijak tentu tidak ingin itu terjadi pada dirinya.
Bukan karena ingin yang mewah, tetapi karena ingin tetap dimuliakan sesuai syariat Allah.
Menyiapkan Lahan Bukan Fardhu Kifayah, Tapi Ikhtiar Terbaik
Sering kita mendengar, “Kan ini fardhu kifayah, nanti juga ada yang ngurus.”
Betul, tetapi yang dimaksud fardhu kifayah adalah empat perkara:
- memandikan,
- mengkafani,
- menshalatkan,
- menguburkan.
Menyiapkan lahan makam tidak termasuk fardhu kifayah.
Mengapa?
Karena yang empat tadi tidak bisa dikerjakan dengan sempurna jika lahan belum ada.
Maka menyiapkan lahan adalah bagian dari ikhtiar pribadi untuk memastikan syariat dapat dijalankan.
Ini bukan pamer, bukan berlebihan.
Ini adalah kematangan iman dan tanda cinta orang tua kepada anaknya.
Ketenangan untuk Anak-Anak Kita
Bayangkan hari kepergian kita kelak—hari yang pasti tiba.
Bukankah kita ingin anak-anak:
- melepas kita dengan khusyuk,
- tidak panik mencari lahan,
- tidak terbebani biaya besar,
- tidak berdebat satu sama lain,
- dan bisa langsung menjalankan adab pemakaman?
Dengan menyiapkan lahan sejak sekarang, kita mengatakan kepada mereka:
“Ayah/Ibu sudah menyiapkan semuanya. Kalian tinggal mendoakan.
Jangan bingung, jangan repot.
Fokuslah mengantar Ayah/Ibu dengan doa terbaik.”
Itulah hadiah terindah dari orang tua kepada anak-anaknya: ketenangan di hari duka.

Menutup Hidup dengan Martabat dan Ketaatan
Islam mengajarkan untuk menghindari mudarat sebelum terjadi. Maka menyiapkan pemakaman adalah bagian dari hikmah dan ikhtiar, bukan suatu kesia-siaan.
Semua ini bukan tentang tanah, bukan tentang harga, bukan tentang duniawi.
Ini tentang kehormatan, adab, dan cinta.
Karena perjalanan kita panjang.
Dan bab terakhirnya seharusnya ditutup dengan tenang, syar’i, dan terhormat—sebagaimana Allah memuliakan hamba-Nya yang bertakwa.
Baca Artikel Lainnya
Tak Ada yang Beli Makam di Al Azhar Langsung Meninggal, Tapi Banyak yang Menyesal Karena Belum Siap
10 Pertimbangan Bijak Sebelum Memutuskan Membeli Lahan Makam



