Fenomena pungli dan preman TPU semakin sering menjadi kegelisahan masyarakat. Ziarah yang semestinya menjadi perjalanan spiritual penuh ketenangan justru berubah menjadi pengalaman yang sarat tekanan. Banyak keluarga terhormat merasa bahwa adab ziarah tidak lagi terjaga, dan suasana TPU tidak lagi memuliakan orang-orang yang telah kembali kepada Allah.
Apa yang seharusnya menjadi ruang keheningan dan doa berubah menjadi arena yang dipenuhi pungutan, gangguan, dan ketidaknyamanan. Pelan tapi pasti, hal ini menggerus makna ziarah itu sendiri.
Potret Nyata TPU: Ketika Ziarah Kehilangan Martabatnya

Di Jakarta, fenomena ini tidak lagi menjadi cerita “katanya”, melainkan pengalaman langsung banyak keluarga. Salah satunya terjadi di TPU Karet Bivak.
Retribusi makam yang tidak jelas alurnya membuat keluarga kebingungan. Ketika generasi sebelumnya telah wafat, tidak ada lagi yang meneruskan pembayaran tiga tahunan. Tiba-tiba, makam dianggap “terbengkalai”, seolah keluarga tidak peduli.
Saat datang untuk berziarah, muncul “tukang doa profesional” yang memimpin doa tanpa permintaan. Mereka membaca doa tanpa adab yang benar, lalu menagih bayaran. Doa—yang seharusnya menjadi ibadah tulus—berubah menjadi transaksi.
Belum cukup sampai di situ, anak-anak kecil mengikuti pengunjung dari parkir hingga pulang, meminta sedekah tanpa henti. Dan ketika makam tidak rapi, “perawat makam” datang menawarkan jasa pembersihan dengan biaya tambahan, namun jika tidak dibayar, makam tetap dibiarkan berantakan.
Yang paling memilukan adalah larangan merawat makam sendiri. Ketika keluarga ingin mengecat nisan yang memudar, mereka tidak diperbolehkan melakukannya. Harus memakai jasa “perawat makam”, tentu dengan biaya tambahan.
Semua ini membuat ziarah kehilangan martabatnya.
Gangguan-gangguan kecil itu mengalihkan hati dari doa kepada rasa tidak nyaman.

Sudut Pandang Syariah: Ziarah Menuntut Ketertiban dan Kehormatan
Syariah mengajarkan bahwa ziarah kubur adalah ibadah yang melembutkan hati. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ziarahlah kalian ke kubur, karena ia mengingatkan kalian kepada akhirat.”
(HR. Muslim)
Tujuan ziarah adalah renungan, bukan tekanan.
Ketenangan, bukan kegaduhan.
Kemuliaan, bukan pemaksaan.
Allah ﷻ berfirman:
“Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam…”
(QS. Al-Isrā’: 70)
Termasuk memuliakan jasadnya setelah wafat dan menghormati keluarga yang ditinggalkan.
Ketika ziarah diliputi pungli, intimidasi halus, dan suasana yang tidak teratur, maka ruh ibadah itu memudar.
Inilah salah satu alasan banyak keluarga terhormat kini mempertimbangkan alternatif pemakaman yang lebih manusiawi, lebih syariah, dan lebih memuliakan.
Mengapa Banyak Keluarga Mulai Memilih Pemakaman yang Lebih Layak dan Tertata?
Karena mereka memahami bahwa:
- doa memerlukan ketenangan,
- ziarah memerlukan ruang yang bersih dan damai,
- ibadah memerlukan lingkungan yang mendukung kekhusyukan.
Mereka tidak mencari kemewahan.
Mereka mencari pemuliaan.
Ziarah bukan sekadar kewajiban tahunan,
tetapi momen menyambungkan cinta dengan mereka yang telah mendahului kita.
Dan momen itu memerlukan tempat yang menghormati prosesnya.
Pemakaman Syariah yang Lebih Tenang: Pilihan yang Memuliakan Keluarga
Pemakaman seperti Al Azhar Memorial Garden hadir bukan untuk berkompetisi dengan TPU,
tetapi untuk menjawab keresahan masyarakat.
Di tempat ini, keluarga merasakan suasana yang terjaga:
- lingkungan bebas pungli dan preman,
- kebersihan yang dirawat profesional sepanjang tahun,
- tenda dan kursi disediakan dengan rapi saat ziarah,
- suasana taman hijau yang sejuk dan lapang,
- parkir aman dan tertib tanpa pungutan liar,
- doa dapat dipimpin oleh ustadz yang tepat ilmunya bila keluarga menginginkan.
Bukan kemewahan—
tetapi ketertiban.
Bukan pamer—
tetapi pemuliaan.
Bukan gaya hidup—
tetapi amanah mencintai orang tua sampai akhir.
Semua fasilitas itu hadir bukan untuk diperlihatkan,
tetapi untuk dirasakan:
bahwa ziarah kembali menjadi ibadah yang tenang.
Ketika Hati Mulai Mengerti Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan
Ada momen ketika kita berdiri di depan makam orang tua,
melihat kondisi sekeliling,
dan hati tiba-tiba berkata lirih:
“Seharusnya beliau berada di tempat yang lebih tenang dari ini…”
Kesadaran seperti itu muncul bukan karena kemewahan,
tetapi karena cinta.
Karena kita ingin memberikan tempat terbaik bagi orang yang telah memberikan segalanya selama hidupnya.
Dan hati pun mulai bertanya:
Apakah tidak ada tempat di mana doa bisa turun tanpa gangguan?
Tempat yang menjaga martabat, bukan memanfaatkannya?
Ketika pertanyaan itu muncul, sesungguhnya Allah sedang membimbing kita untuk melihat pilihan yang lebih menenangkan.
Jika hati Anda merasakan hal itu,
mungkin ini saatnya mempertimbangkan pemakaman yang menjaga adab, menata ketenangan, dan memuliakan setiap kunjungan doa.
Anda dapat berbicara dengan agen resmi Al Azhar Memorial Garden,
yang akan menemani Anda dengan penuh kelembutan dan kejujuran—tanpa tekanan apa pun.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat merujuk pada:
🔗 Masalah “Preman” di TPU Saat Ziarah dan Solusi Khusyuk di Makam Al Azhar Memorial Garden
Ketenangan bukan sesuatu yang datang tiba-tiba;
ia adalah sesuatu yang kita pilih dengan kesadaran dan kasih sayang.
Penutup: Doa Membutuhkan Ruang untuk Tumbuh
Doa adalah hadiah terakhir yang kita berikan kepada mereka yang kita cintai.
Dan hadiah itu layak diberikan di tempat yang tenang, tertata, dan terhormat.
Jika TPU membuat doa terasa terhalang,
maka memilih tempat yang lebih memuliakan
bukanlah kemewahan—
tetapi bentuk cinta yang paling dalam.
Al Azhar Memorial Garden adalah ruang hening itu—
tempat doa menemukan rumahnya,
dan keluarga menemukan kedamaian.



