Ketika seseorang yang kita cintai telah berpulang, wajar bila kita ingin memberi tanda di makamnya — agar mudah diziarahi, dikenang, dan didoakan.
Tanda itu disebut nisan.
Namun, dalam Islam, segala sesuatu memiliki adab dan batasannya.
Maka muncul pertanyaan penting:
Apakah boleh membuat nisan di kubur?
Bagaimana bentuk dan ukurannya agar sesuai tuntunan syariat?
🌿 1️⃣ Makna Nisan dalam Islam
Nisan bukanlah simbol kemewahan,
melainkan penanda tempat seseorang dimakamkan,
agar keluarga dan sahabat bisa mengenalinya saat berziarah dan mendoakan.
Dalam hadis sahih disebutkan:
Dari Al-Muthallib bin Abdullah bin Hantab, ia berkata:
“Rasulullah ﷺ menandai kubur Utsman bin Mazh’un dengan batu, seraya bersabda:
‘Dengan batu ini aku mengenal kubur saudaraku, dan aku akan memakamkan orang-orang yang meninggal dari keluargaku di dekatnya.’”
(HR. Abu Dawud, no. 3206)
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ sendiri memberi tanda di kubur sahabatnya.
Artinya, boleh membuat nisan, selama tujuannya untuk mengenal dan menjaga adab ziarah.
🌸 2️⃣ Hukum Membuat Nisan Menurut Ulama
Para ulama sepakat bahwa hukum membuat nisan adalah boleh,
dengan syarat tidak berlebihan dan tidak menyerupai kebanggaan dunia.
Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan:
“Dibolehkan memberi tanda di atas kubur dengan batu, agar dikenal dan tidak hilang.”
(Al-Majmu’, 5/304)
Demikian pula dalam Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (9/148):
“Tidak mengapa memberi tanda di kubur agar dikenal,
baik dengan batu atau tanda sederhana lain,
selama tidak berlebihan dan tidak ditulis sesuatu yang mengandung pujian duniawi.”
Jadi, membuat nisan bukan hal yang dilarang,
selama niatnya benar: untuk mengenali, bukan untuk membanggakan.
🌿 3️⃣ Batasan dalam Membuat Nisan
Agar tidak keluar dari adab Islam, berikut batasan yang perlu diperhatikan:
🕋 a. Tidak Berlebihan dalam Ukuran dan Ornamen
Islam menekankan kesederhanaan, bahkan setelah wafat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah kalian membuat kubur tinggi menjulang.”
(HR. Muslim, no. 969)
Karenanya, nisan sebaiknya sederhana dan tidak mencolok.
Cukup berbentuk tegak kecil atau datar, tanpa ornamen berlebihan.
Di Al Azhar Memorial Garden, bentuk nisan mengikuti standar syariah —
minimalis, elegan, dan menghadap kiblat, mencerminkan kesucian dan ketenangan.
🕋 b. Tulisan Hanya Sebatas Identitas
Boleh menulis nama, tanggal lahir, dan wafat,
namun tidak dianjurkan menulis pujian berlebihan, doa khusus, atau ayat Al-Qur’an.
Mengapa?
Karena tulisan Al-Qur’an dikhawatirkan terinjak, terhapus, atau terkena najis.
Imam As-Suyuthi rahimahullah berkata:
“Dimakruhkan menulis Al-Qur’an di atas kubur, karena dapat terhina atau rusak.”
Cukup identitas singkat agar mudah dikenali,
tanpa mengubah nisan menjadi monumen duniawi.
🕋 c. Tidak Mengandung Gambar, Ukiran, atau Hiasan Dunia
Islam melarang segala bentuk pengagungan berlebihan terhadap kubur.
Nisan yang dipahat, diwarnai, atau dihiasi ukiran adalah bentuk tasyabbuh (penyerupaan) dengan budaya non-Islam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah dan jangan membangun di atasnya.”
(HR. Muslim, no. 532)
Nisan bukan simbol status sosial,
melainkan simbol kesederhanaan dan ketundukan kepada Allah.
🌸 4️⃣ Adab dalam Membuat dan Menjaga Nisan
Membuat nisan juga harus disertai adab dan niat yang benar.
Beberapa adab penting yang perlu dijaga:
- Niatkan karena Allah dan adab, bukan prestise.
Jangan sampai nisan menjadi “perbandingan” antar keluarga. - Jaga kebersihan dan kesederhanaan.
Bersihkan rumput, jangan menaruh hiasan duniawi, bunga plastik, atau patung. - Tidak menginjak atau duduk di atas kubur.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Duduk di atas bara api yang membakar pakaian hingga menembus kulit lebih baik daripada duduk di atas kubur.”
(HR. Muslim, no. 971) - Rawat dengan niat ibadah.
Membersihkan makam bukan hanya tugas kebersihan, tapi tanda kasih dan penghormatan.
🌿 5️⃣ Mengapa Keluarga Muslim Modern Memilih Nisan Islami
Di era modern, banyak keluarga ingin memberikan yang terbaik untuk orang tua mereka —
tidak hanya saat hidup, tapi juga setelah wafat.
Namun sering kali, pemakaman umum tidak terjaga,
nisan hilang, rusak, atau diganti karena lahan tumpang tindih.
Itulah sebabnya keluarga muslim kini lebih sadar untuk memilih pemakaman islami yang tertata dan beradab,
seperti Al Azhar Memorial Garden.
Di sini, setiap nisan:
- Dibuat dengan ukuran dan bentuk sesuai syariat.
- Terjaga kebersihan dan keindahannya.
- Menghadap kiblat dan tidak ditumpuk.
- Dikelola dengan penuh adab dan ketenangan.
Nisan menjadi penanda kasih dan doa, bukan kebanggaan dunia.
Ziarah pun menjadi ibadah yang khusyuk, bukan ritual formalitas.
🌸 6️⃣ Ketika Nisan Menjadi Simbol Cinta dan Doa
Pada akhirnya,
nisan hanyalah batu — tapi maknanya bisa abadi.
Ia adalah saksi cinta keluarga yang tidak putus oleh kematian.
Setiap kali anak datang dan membaca doa di hadapan nisan orang tuanya,
batu itu menjadi pengingat cinta, bakti, dan iman.
Di sinilah letak keindahan Islam:
bahwa bahkan dalam kematian, adab dan cinta tetap hidup.
🌤️ Penutup: Sederhana dalam Dunia, Mulia di Akhirat
Membuat nisan bukan perkara haram,
tetapi ibadah adab bila dilakukan dengan niat yang benar.
Sederhana, bersih, menghadap kiblat, dan penuh hormat —
itulah bentuk penghormatan sejati kepada yang telah mendahului kita.
Karena sejatinya,
yang dibutuhkan bukan nisan megah,
tapi doa tulus dari hati yang penuh cinta.
“Doa anak saleh yang mendoakan orang tuanya adalah amal yang tak terputus.”
(HR. Muslim)
Semoga Allah menjadikan kita keluarga yang memuliakan orang tua hingga akhir hayat,
dan mengumpulkan kita kembali di taman surga,
di antara nisan-nisan yang sederhana, tapi penuh keberkahan. 🤲🏻

Ketika seseorang yang kita cintai telah berpulang, wajar bila kita ingin memberi tanda di makamnya — agar mudah diziarahi, dikenang, dan didoakan.
Tanda itu disebut nisan.
Namun, dalam Islam, segala sesuatu memiliki adab dan batasannya.
Maka muncul pertanyaan penting:
Apakah boleh membuat nisan di kubur?
Bagaimana bentuk dan ukurannya agar sesuai tuntunan syariat?
🌿 1️⃣ Makna Nisan dalam Islam
Nisan bukanlah simbol kemewahan,
melainkan penanda tempat seseorang dimakamkan,
agar keluarga dan sahabat bisa mengenalinya saat berziarah dan mendoakan.
Dalam hadis sahih disebutkan:
Dari Al-Muthallib bin Abdullah bin Hantab, ia berkata:
“Rasulullah ﷺ menandai kubur Utsman bin Mazh’un dengan batu, seraya bersabda:
‘Dengan batu ini aku mengenal kubur saudaraku, dan aku akan memakamkan orang-orang yang meninggal dari keluargaku di dekatnya.’”
(HR. Abu Dawud, no. 3206)
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ sendiri memberi tanda di kubur sahabatnya.
Artinya, boleh membuat nisan, selama tujuannya untuk mengenal dan menjaga adab ziarah.
🌸 2️⃣ Hukum Membuat Nisan Menurut Ulama
Para ulama sepakat bahwa hukum membuat nisan adalah boleh,
dengan syarat tidak berlebihan dan tidak menyerupai kebanggaan dunia.
Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan:
“Dibolehkan memberi tanda di atas kubur dengan batu, agar dikenal dan tidak hilang.”
(Al-Majmu’, 5/304)
Demikian pula dalam Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (9/148):
“Tidak mengapa memberi tanda di kubur agar dikenal,
baik dengan batu atau tanda sederhana lain,
selama tidak berlebihan dan tidak ditulis sesuatu yang mengandung pujian duniawi.”
Jadi, membuat nisan bukan hal yang dilarang,
selama niatnya benar: untuk mengenali, bukan untuk membanggakan.
🌿 3️⃣ Batasan dalam Membuat Nisan
Agar tidak keluar dari adab Islam, berikut batasan yang perlu diperhatikan:
🕋 a. Tidak Berlebihan dalam Ukuran dan Ornamen
Islam menekankan kesederhanaan, bahkan setelah wafat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah kalian membuat kubur tinggi menjulang.”
(HR. Muslim, no. 969)
Karenanya, nisan sebaiknya sederhana dan tidak mencolok.
Cukup berbentuk tegak kecil atau datar, tanpa ornamen berlebihan.
Di Al Azhar Memorial Garden, bentuk nisan mengikuti standar syariah —
minimalis, elegan, dan menghadap kiblat, mencerminkan kesucian dan ketenangan.
🕋 b. Tulisan Hanya Sebatas Identitas
Boleh menulis nama, tanggal lahir, dan wafat,
namun tidak dianjurkan menulis pujian berlebihan, doa khusus, atau ayat Al-Qur’an.
Mengapa?
Karena tulisan Al-Qur’an dikhawatirkan terinjak, terhapus, atau terkena najis.
Imam As-Suyuthi rahimahullah berkata:
“Dimakruhkan menulis Al-Qur’an di atas kubur, karena dapat terhina atau rusak.”
Cukup identitas singkat agar mudah dikenali,
tanpa mengubah nisan menjadi monumen duniawi.
🕋 c. Tidak Mengandung Gambar, Ukiran, atau Hiasan Dunia
Islam melarang segala bentuk pengagungan berlebihan terhadap kubur.
Nisan yang dipahat, diwarnai, atau dihiasi ukiran adalah bentuk tasyabbuh (penyerupaan) dengan budaya non-Islam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah dan jangan membangun di atasnya.”
(HR. Muslim, no. 532)
Nisan bukan simbol status sosial,
melainkan simbol kesederhanaan dan ketundukan kepada Allah.
🌸 4️⃣ Adab dalam Membuat dan Menjaga Nisan
Membuat nisan juga harus disertai adab dan niat yang benar.
Beberapa adab penting yang perlu dijaga:
- Niatkan karena Allah dan adab, bukan prestise.
Jangan sampai nisan menjadi “perbandingan” antar keluarga. - Jaga kebersihan dan kesederhanaan.
Bersihkan rumput, jangan menaruh hiasan duniawi, bunga plastik, atau patung. - Tidak menginjak atau duduk di atas kubur.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Duduk di atas bara api yang membakar pakaian hingga menembus kulit lebih baik daripada duduk di atas kubur.”
(HR. Muslim, no. 971) - Rawat dengan niat ibadah.
Membersihkan makam bukan hanya tugas kebersihan, tapi tanda kasih dan penghormatan.
🌿 5️⃣ Mengapa Keluarga Muslim Modern Memilih Nisan Islami
Di era modern, banyak keluarga ingin memberikan yang terbaik untuk orang tua mereka —
tidak hanya saat hidup, tapi juga setelah wafat.
Namun sering kali, pemakaman umum tidak terjaga,
nisan hilang, rusak, atau diganti karena lahan tumpang tindih.
Itulah sebabnya keluarga muslim kini lebih sadar untuk memilih pemakaman islami yang tertata dan beradab,
seperti Al Azhar Memorial Garden.
Di sini, setiap nisan:
- Dibuat dengan ukuran dan bentuk sesuai syariat.
- Terjaga kebersihan dan keindahannya.
- Menghadap kiblat dan tidak ditumpuk.
- Dikelola dengan penuh adab dan ketenangan.
Nisan menjadi penanda kasih dan doa, bukan kebanggaan dunia.
Ziarah pun menjadi ibadah yang khusyuk, bukan ritual formalitas.
🌸 6️⃣ Ketika Nisan Menjadi Simbol Cinta dan Doa
Pada akhirnya,
nisan hanyalah batu — tapi maknanya bisa abadi.
Ia adalah saksi cinta keluarga yang tidak putus oleh kematian.
Setiap kali anak datang dan membaca doa di hadapan nisan orang tuanya,
batu itu menjadi pengingat cinta, bakti, dan iman.
Di sinilah letak keindahan Islam:
bahwa bahkan dalam kematian, adab dan cinta tetap hidup.
🌤️ Penutup: Sederhana dalam Dunia, Mulia di Akhirat
Membuat nisan bukan perkara haram,
tetapi ibadah adab bila dilakukan dengan niat yang benar.
Sederhana, bersih, menghadap kiblat, dan penuh hormat —
itulah bentuk penghormatan sejati kepada yang telah mendahului kita.
Karena sejatinya,
yang dibutuhkan bukan nisan megah,
tapi doa tulus dari hati yang penuh cinta.
“Doa anak saleh yang mendoakan orang tuanya adalah amal yang tak terputus.”
(HR. Muslim)
Semoga Allah menjadikan kita keluarga yang memuliakan orang tua hingga akhir hayat,
dan mengumpulkan kita kembali di taman surga,
di antara nisan-nisan yang sederhana, tapi penuh keberkahan. 🤲🏻



